Jumat, 13 Desember 2013

MENGUBAH METODE PENGAJARAN DAPAT MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA

Jakarta – Untuk memperbaki kemampuan siswa dalam bidang matematika, sains, dan membaca, perlu dilakukan perubahan dalam metode pengajaran di dalam kelas, misalnya dengan lebih memperbanyak praktik. Demikian dikatakan Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Ramon Mohandas, dalam talkshow di Radio KBR 68 H, Rabu (11/12), di Jakarta.  “Agar kemampuan siswa dalam ketiga bidang tersebut dapat ditingkatkan maka perlu dilakukan perubahan dalam metode pembelajaran di dalam kelas, antara lain dengan memperbanyak praktik”, ujar Ramon.

Penjelasan ini disampaikan Ramon Mohandas, menanggapi pemberitaan mengenai rendahnya kemampuan siswa Indonesia dalam bidang matematika, sains, dan membaca. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2012, yang dipublikasikan the Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), Indonesia berada diposisi ke 64 dari 65 negara yang berpartisipasi dalam tes tersebut.

Dikatakannya, perubahan metode pengajaran  ini telah diakomodir dalam Kurikulum 2013, yang  memfokuskan pengajaran pada tiga hal, yakni sikap, pengetahuan, dan keterampilan, dengan berbasiskan pada pendekatan scientific, yang menekankan pada observasi, bertanya, bernalar, mencoba, mengkomunikasikan. Pada  jenjang SD pembentukan sikap mencapai 70 persen dari seluruh pembelajaran. Pembentukan sikap ini antara lain, kejujuran, toleransi dan cinta tanah air. Ditambahkannya, perubahan kurikulum selama ini tidak banyak merubah metode pengajaran di kelas.

Untuk menaikkan peringkat Indonesia dalam tes PISA maka materi-materi yang diuji dalam tes tersebut perlu dimasukan ke dalam Kurikulum 2013. Dijelaskannya, hasil PISA juga dipengaruhi oleh cakupan wilayah yang dilakukan penilaian. Penilaian yang dilakukan terhadap siswa Indonesia dilakukan di seluruh wilayah Indonesia. Sementara itu,, misalnya Cina, penilaian hanya berdasarkan sampel, yakni hanya mengambil sampel kota Shanghai.

Pada Kurikulum 2013, penilaian siswa di jenjang SD, dilakukan dalam bentuk narasi, dan tidak  dalam bentuk angka seperti selama ini dilakukan. “Penilaian dilakukan  secara narasi dalam kalimat positif yang menumbuhkan optimisme, bagi siswa yang belum mampu mencapai tingkatan yang diinginkan akan diberikan remedial”, ujar Ramon. Ditambahkannya, di jenjang SD juga tidak ada lagi perangkingan.

Dijelaskannya, guru yang akan menerapkan Kurikulum 2013 harus mengikuti pelatihan terlebih dahulu. “Pada Kurikulum 2013, guru hanya boleh menerapkannya setelah mendapatkan  pelatihan”, tegas mantan atase pendidikan di Belanda tersebut. “Persyaratan lain dalam penerapan Kurikulum 2013, bukunya disiapkan sepenuhnya oleh Pemerintah dan diberikan secara gratis kepada peserta didik”, tandas Ramon (TD)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar